Kesedihan dan kerinduan adalah dua sisi yang menyakitkan. Selama orang yang kau harapkan masih ada di hatimu, dua perkara tersebut tak akan bisa lepas. Satu waktu kamu merindukan dua perkara tersebut. Tapi lebih sering kamu tidak mengharapkanya.

Yang tersulit bukan membuang dua perkara tersebut, tapi mencari makna dibalik semua itu. Makna dibalik kerinduan dan kesedihan (serta) rasa sakit hati. Dua sisi yang bisa membunuh dalam hitungan detik. Namun saat terbunuh, mencoba untuk mencari makna dan hikmah bukanlah hal yang tak mungkin, tapi sulit.
Sungguh menyakitkan tatkala kita mengetahui bahwa dia, orang yang kita harapkan, ternyata lebih nyaman di saat tidak bersama kita. Namun yang paling tragis adalah jika ternyata dia tidak nyaman saat duduk bersama kita.
Hal yang paling melelahkan bukanlah disaat kita mencari cinta terbaik, tapi ketika waktu dihabiskan untuk insan yang urung menghargai ketulusan kita. Ada banyak sesuatu yang tersirat dari sakit. Bahwa Tuhan mengirimkanhala-hal yang tersirat lewat sakit. Lewat sakit kita bisa memotivasi diri, bahwa akan datang yang terbaik. Entah kapan, mungkin esok, lusa, tahun depan, atau kapan.
(Saya) harus merelakan semua ini di esok pagi. Malam ini biarlah menjadi arang. Hitam dan panas. Biarlah, asal bukan parang atau pisau. Hitam dan panas belum tentu menyayat, hanya melubangi. Ya, melubangi, dan sesuatu yang lubang pasti akan membekas. Itulah akibatnya kalo mencintai seseorang 100%, yang ada hanya sakit hati bukan kepalang.
Punya rasa adalah indah, hilang itu indah, datangpun indah, patah juga indah, tapi indah itu bukan indah. Cinta mungkin dua garis simetris yang tak simetris memotong dalam tengah titik iris. Bertemu itu untuk berpisah dan datang itu untuk hilang.
Sampai jumpa di kehidupan yang lain dan disisi yang lain.


















